Dari Tanjung ke Tanjung: Perjalanan Panjang Sang Bakwan Jagung

Siapa sangka, bakwan jagung — atau yang di Sulawesi Utara lebih dikenal dengan nama perkedel jagung — ternyata menyimpan kisah yang dimulai berabad-abad lalu. Kudapan yang tidak asing di lidah banyak masyarakat Indonesia ini punya perjalanan panjang yang melintasi samudra.

Kisahnya bermula dari jagung yang berasal dari benua Amerika. Penyebaran jagung ke seluruh dunia dimulai setelah pelayaran Columbus pada tahun 1492. Pedagang Spanyol dan Portugis kemudian membawa jagung hingga ke Asia Tenggara pada abad ke-16 dan ke-17.

Menurut David Henley dalam karya ilmiahnya, Fertility, Food and Fever: Population, Economy and Environment in North and Central Sulawesi, 1600–1930, Sulawesi Utara pada abad ke-17 menjadi wilayah yang diperebutkan oleh Portugis, Spanyol, VOC (Belanda), dan Kesultanan Ternate. Pada periode inilah jalur masuknya tanaman dari Dunia Baru ke Sulawesi terbuka.

Sementara itu, teknik menggoreng dengan minyak kelapa sebagai medium memasak sudah lebih dahulu dikenal di Nusantara. Walaupun tidak ada sumber yang bisa memastikan pihak tertentu sebagai yang “berjasa” memperkenalkan teknik ini, banyaknya kontak dengan budaya lain — seperti India, Tiongkok, Arab, dan Eropa — melalui perdagangan bisa menjadi alasan mengapa teknik memasak ini mulai dikenal di sini.

Secara etimologi, kata “perkedel” merupakan serapan dari bahasa Belanda frikadel, yaitu olahan daging cincang. Sedangkan “bakwan” berasal dari rumpun bahasa Tionghoa yang berarti bola daging. Pergeseran dari daging ke bahan lain ini lazim dipahami sebagai bentuk penyesuaian terhadap ketersediaan dan harga bahan pangan lokal.

Mengagumkan, bukan? Bakwan jagung yang tampak sederhana ternyata merupakan cerminan dari sejarah Nusantara sebagai persilangan jalur dagang.

Copyright © 2026 Sasanti Restaurant. All right reserved.